Pembenihan Ikan Kerapu

Diposting pada

Pembenihan Ikan Kerapu

Kerapu merupakan salah satu jenis ikan karang yang paling populer di daerah Asia-Pasifik dan mempunyai nilai ekspor cukup tinggi. Salah satu jenis ikan kerapu yang  mempunyai nilai ekonomis tinggi yaitu ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus).

Kerapu macan umumnya tumbuh cepat, kuat dan cocok untuk budidaya intensif maupun tradisional serta mempunyai kekhasan dalam pasca panen serta penyajian dalam konsumsi (Tarwiyah, 2001).

Ikan Kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat dan dapat diproduksi massal untuk melayani permintaan pasar ikan kerapu dalam keadaan hidup (Anonim, 2010).

Berkembangnya pasaran ikan kerapu hidup karena adanya perubahan selera konsumen dari ikan mati atau beku kepada ikan dalam keadaan hidup, telah mendorong masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ikan kerapu melalui usaha budidaya.

Budidaya ikan kerapu telah dilakukan dibeberapa tempat di Indonesia, namun dalam proses pengembangannya masih menemui kendala, karena keterbatasan benih. Selama ini para petani nelayan masih mengandalkan benih alam yang sifatnya musiman.

Cara Budidaya Ikan Kerapu
Cara Budidaya Ikan Kerapu

Klasifikasi Kerapu

  • Ikan Kerapu diklasifikasikan sebagai berikut :
  • Kingdom : Animalia
  • Phylun : Chordata
  • Kelas : Actinopterygii
  • Ordo : Perciformis
  • Famili : Serranidea

Genus : 1) Acanthistius; 2)Alphestes; 3) Anyperido; 4) Caprodon; 4) Cephalopholis; 5) Chromileptes; 6) Dermatolepis; 7) Epinephelus; 8) Gonioplectrus; 9)Gracila; 10) Hypoplectrodes; 11) Liopropoma; 12) Mycteroperca; 13) Niphon; 14) Paranthias; 15) Plectropomus; 16) Saloptia; 17) Triso; 18) Variola.

Ikan kerapu ditemukan diperairan pantai Indo-Pasifik sebanyak 110 spesies dan diperairan Filipina dan Indonesia sebanyak 46 spesies yang tercakup ke dalam 7 genera Aethaloperca, Anyperodon, Cephalopholis, Cromileptes, Epinephelus, Plectropomus, dan Variola (Marsambuana dan Utojo, 2001).

Dari 7 genus tersebut, genus Chromileptes, Plectropomus, dan Epinephelus sekarang digolongkan ikan komersial dan mulai dibudidayakan.

Habitat dan Penyebaran

Di Perairan Indonesia populasi ikan kerapu terdapat cukup banyak antara lain adalah perairan pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru dan Ambon (Subyakto dan Cahyaningsih, 2005).

Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan ikan karang yang tergolong dalam famili serranidae, Sebagian besar hidup di perairan dangkal dengan dasar pasir berkarang, walaupun beberapa jenis dapat ditemukan di perairan dalam (BBL Batam, 2006).

Ikan kerapu dapat dijumpai di perairan tropis dan subtropis pada kedalaman 0,5-3,0 m (benih), sedangkan yang dewasa sebagian besar hidup pada kedalaman 7-40 meter, namun beberapa spesies dapat dijumpai pada kedalaman 100-200 m dan bahkan 500 m.

Ikan kerapu pada umumnya hidup di terumbu karang (Coral reefs), namun ada beberapa yang hidup di perairan pantai dekat muara sungai (Estuarine) atau batu karang (Rocky reefs).

Habitat benih ikan kerapu macan adalah pantai yang banyak ditumbuhi algae jenis Reticulata dan Gracilaria sp, setelah dewasa hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar terdiri dari pasar berlumpur.

Ikan kerapu termasuk jenis karnivora dan cara makannya “mencaplok” satu persatu makan yang diberikan sebelum makanan sampai ke dasar.

Pakan yang paling disukai adalah jenis Crustaceae dan jenis ikan-ikan (Anonimous, 2010a). Habitat favorit larva dan kerapu muda adalah perairan pantai dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun.

Parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24 – 31ºC, salinitas antara 30 -33 ppt, kandungan oksigen terlarut > 3,5 ppm dan pH antara 7,8 – 8. Perairan dengan kondisi seperti ini, pada umumnya terdapat di perairan terumbu karang (Anonimous, 2010b).

Morfologi Kerapu

Bentuk tubuh pipih, yaitu lebar tubuh lebih kecil dari pada panjang dan tinggi tubuh.  Rahang atas dan bawah dilengkapi dengan gigi yang lancip dan kuat. Mulut lebar, serong ke atas dengan bibir bawah yang sedikit menonjol melebihi bibir atas.

Sirip ekor berbentuk bundar, sirip punggung tunggal dan memanjang dimana bagian yang berjari-jari keras kurang lebih sama dengan yang berjari-jari lunak.

Posisi sirip perut berada dibawah sirip dada. Badan ditutupi sirip kecil yang bersisik stenoid.

Pakan dan Kebiasaan Pakan

Ikan kerapu macan dan kerapu tikus merupakan hewan karnivor, sebagaimana jenis-jenis ikan kerapu lainnya.  Ikan kerapu macan dan kerapu tikus  dewasa adalah pemakan ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang-udangan, sedangkan larvanya pemangsa larva moluska (trokofor), rotifer, mikro krustasea, kopepoda, dan zooplankton.

Sebagai ikan karnivora, kerapu cenderung menangkap mangsa yang aktif bergerak di dalam kolom air (Nybakken, 1988).  Tampubulon dan Mulyadi (1989),  mengungkapkan bahwa ikan kerapu mempunyai kebiasaan makan pada siang hari dan malam hari,  namun lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari.

Kerapu biasa mencari makan dengan menyergap mangsa dari tempat persembunyiannya.  Kerapu macan mempunyai kemampuan menangkap mangsa lebih cepat daripada kerapu sunu (Anonymous, 1991).  Sebagai ikan karnivora, kerapu bersifat kanibalisme.

Kanibalisme biasanya mulai terjadi pada larva kerapu berumur 30 hari, dimana pada saat itu larva cenderung berkumpul di suatu tempat dengan kepadatan tinggi. Berdasarkan perilaku makannya, ikan kerapu dewasa memangsa ikan-ikan kecil, crustacea dan cephalopoda  yang menempati struktur tropik teratas dalam piramida rantai makanan (Randall, 1987).

Tidak bedanya dengan kerapu macan,  sebagai ikan karnivora kerapu tikus juga mempunyai kecenderungan bersifat kanibal, namun sifat kanibal ikan kerapu tikus tidak seperti jenis kerapu lainnya dikarenakan lebar bukaan mulut kerapu tikus lebih kecil.

Pembenihan Kerapu

Persyaratan Teknis

Faktor teknis adalah segala persyaratan yang harus dipenuhi dalam kegiatan pembenihan ikan kerapu yang berhubungan langsung dengan aspek teknis ikan dalam memproduksi benih, bebrapa aspek panting yang harus dipenuhi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah:

  • Letak unit pembenihan di tepi pantai untuk memudahkan perolehan sumber air. Pantai tidak terlalu landai dengan kondisi dasar laut tidak berlumpur dan mudah dijangkau untuk memperlancar transportasi.
  • Air laut harus bersih, tidak tercemar dengan salinitas 28-35 ppt.
  • Sumbeer air laut dapat dipompa minimal 20 jam perhari.
  • Sumber air tawar tersedia dengan salinitas minimal 5 ppt.
  • Penentuan lokasi sesuai Rencana Umum Tata Ruang Daerah/Wilayah (RUTRD/RUTRW) (Anonim, 2012).

Parameter Kualitas Air

Subyakto dan Cahyanigsih (2005), menjelaskan beberapa parameter lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan ketahanan larva terhadap penyakit antara lain: suhu air, salinitas, pH, oksigen terlarut, amonia, nitrit, bahan organik dan beberapa senyawa yang bersifat racun seperti pestisida dan logam berat.

Arifin (2008), mengatakan ikan kerapu menyenangi air laut berkadar garam 33 – 35 ppt (part per thousand ).

Pengukuran kualitas air (suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, amoniak, amonium sulfat, nitrit, nitrat, chlorin, dsb) dilakukan dengan menggunakan termometer untuk suhu, refractometer untuk mengukur salinitas, pH meter untuk mengukur pH, DO meter untuk mengukur oksigen terlarut dan water quality test kit untuk mengukur kualitas air lainnya disesuaikan dengan petunjuk kerja dari masing-masing alat yang digunakan. Frekuensi pengukuran dilakukan minimal dua kali seminggu (Ditjen Perikanan Budidaya, 2002).

  • Suhu

Suhu secara langsung berpengaruh terhadap proses metabolisme ikan. Pada suhu tinggi metabolisme ikan dipacu, sedangkan pada suhu yang lebih rendah proses metabolisme diperlambat.

Bila keadaan seperti ini  berlangsung lama, maka akan menggangu kesehatan ikan. Sedangkan secara tidak langsung suhu air yang tinggi menyebabkan oksigen dalam air menguap, akibatnya ikan akan kekurangan oksigen.

Suhu perairan di Indonesia tidak menjadi masalah karena perubahan suhu, baik harian maupun tahunan sangat kecil ( 27 – 320C ). Kadar oksigen dari habitat ikan kerapu sendiri adalah sebesar ± 4 ppm.

Untuk kadar keasaman (pH) air laut yang menjadi habitat ikan kerapu adalah 7,6 – 7,8. Sedangkan besarnya kecepatan arus air yang ideal adalah sekitar 20-40 cm/detik (Subyakto dan Cahyaningsih, 2005).

  • Salinitas

Pada musim kemarau salinitas sangat tinggi, tetapi pada musim penghujan pengaruh air tawar dari sungai akan menurunkan salinitas secara drastis.

Salinitas air yang tidak sesuai dengan kebutuhan ikan kerapu macan dapat menggangu kesehatannya. Karena secara fisiologis salinitas akan mempengaruhi fungsi organ osmoregulator ikan. Perbedaan salinitas air media dengan tubuh ikan menimbulkan gangguan keseimbangan (Rakhas, 2010).

  • Derajat Keasaman (pH)

Reaksi asam-basa sangat berarti bagi lingkungan, karena semua proses biologi hanya akan terjadi dalam kisaran pH optimum. Derajat keasaman air laut umumnya alkalis yaitu antara 7-9.

Hal ini disebabkan di dalam massa air laut terdapat sistem penyangga (buffer system). Derajat keasaman yang terlalu rendah umumnya karena adanya pengaruh dari pH tanah dasar dari perairan tersebut dan juga oleh adanya beberapa proses kimiawi (Rakhas, 2010).

Menurut Sachlan (1987), dekomposisi bahan organik dan respirasi akan menurunkan kandungan oksigen terlarut, sekaligus menaikan kandungan CO2 bebas sehingga mengakibatkan turunya pH air.

  • Oksigen Terlarut (DO)

Oksigen terlarut dalam perairan sangat dibutuhkan semua organisme yang ada didalamnya untuk pernapasan dalam rangka melangsungkan metabolisme dalam tubuh mereka. Oksigen yang ada dalam air bisa masuk melalui difusi dengan udara bebas, hasil fotosintesis dari tanaman dalam air dan adanya aliran air baru (Rakhas, 2010).

Dalam penentuan lokasi pembenihan kerapu macan kandungan oksigen perairan bukan merupakan faktor utama, karena dalam operasionalnya kebutuhan akan oksigen dapat dipenuhi dari sumber pengudaraan tersendiri yaitu dengan memakai blower.

  • Amoniak dan Nitrit

Amoniak (NH3) yang terkandung dalam suatu perairan merupakan salah satu hasil dari proses penguraian bahan organik. Amoniak ini berada dalam dua bentuk yaitu amoniak tak berion (NH3) dan amoniak berion (NH4).

Amoniak tak berion bersifat racun sedangkan amoniak berion tidak. Menurut Sachlan (1987), tingkat peracunan amoniak tak berion berbeda-beda untuk tiap spesies, tetapi pada kadar 0,6 mg/I dapat membahayakan organisme tersebut.

Amoniak biasanya timbul akibat kotoran organisme dan hasil aktivitas jasad renik dalam proses dekomposisi bahan organik yang kaya akan nitrogen. Tingginya kadar amoniak biasanya diikuti naiknya k

adar nitrit, mengingat nitrit adalah hasil dari reaksi oksidasi amoniak oleh bakteri nitrosomonas. Tingginya kadar nitrit terjadi akibat lambatnya perubahan dari nitrit ke nitrat oleh bakteri nitrobakter (Rakhas, 2010).

  • Kecerahan

Perairan yang jernih secara visual menandakan adanya kualitas air yang baik, karena dalam air yang jernih umumnya kandungan partikel-prtikel terlarutnya rendah.

Pada air yang kecerahannya tinggi, beberapa parameter kualitas air lain yang terkait erat dengan bahan organik seperti pH, NO2, H2S dan NH3 cenderung rendah atau layak untuk lokasi pembenihan.

Kebalikan dari kecerahan adalah kekeruhan. Kekeruhan suatu perairan umunya disebabkan oleh 2 faktor yaitu : blooming plankton dan tersuspensinya partikel tanah.

Pengukuran kualitas air (suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, amoniak, amonium sulfat, nitrit, nitrat, chlorin, dsb) dilakukan dengan menggunakan termometer untuk suhu, refractometer untuk mengukur salinitas, pH meter untuk mengukur pH, DO meter untuk mengukur oksigen terlarut dan water quality test kit untuk mengukur kualitas air lainnya disesuaikan dengan petunjuk kerja dari masing-masing alat yang digunakan.

Frekuensi pengukuran dilakukan minimal dua kali seminggu (Ditjen Perikanan Budidaya, 2002).

Persyaratan Sosial Ekonomi

Faktor non-teknis merupakan pelengkap dan pendukung faktor-faktor teknis dalam memilih lokasi untuk pembenihan ikan kerapu.

Dalam penentuan calon lokasi pembenihan, pertama kali perlu diketahui tentang peruntukan suatu wilayah yang biasanya telah terpetakan dalam RUTR dan tata guna lahan, memperhatikan RUTR suatu wilayah untuk pemebnihan kerapu diharapkan tidak akan terjadi tumpang tindih lahan usaha.

Persyaratan lokasi termasuk faktor non-teknis lainnya adalah mengenai lahan usaha. Persyaratan lokasi termasuk lainnya adalah mengenai kemudahan-kemudahan seperti tersedianya sarana transportasi, komunikasi, instalasi listrik, tenaga kerja, pemasaran, pasar, sekolah, tempat ibadah, pelayanan kesehatan, dan sebagainya.

Sebagai makhluk social adanya kemudahan-kemudahan tersebut dapat memberikan ketenangan dan kenyamanan dalam bekerja. Hal lain yang dapat mendukung kelangsungan usaha adalah dukungan Pemda setempat, terutama masyarakat sekitarnya sehingga tidak terjadi konflik atau masalah (Kisto, 1991).

  1. Seleksi Indukan

Ikan kerapu ada bermacam-macam jenis, diantaranya yaitu ikan kerapu macan, kerapu bebek, dan kerapu tikus. Pemilihan induk ikan kerapu harus dilakukan dengan seksama karena akan sangat berpengaruh pada hasil budidaya kita nantinya.

Induk yang baik yaitu memiliki bentuk tubuh yang normal, seluruh anggota tubuhnya lengkap, dan bebas dari gangguan penyakit.

  1. Pemijahan Dan Padat Penebaran

Ikan kerapu ini bersifat hemafrodid protogini, perubahan jenis kelamin dari betina ke jantan, sehingga dalam melakukan pemijahan perlu diperhitungkan perbandingannya, perbandingan induk dalam pemijahan ikan kerapu biasanya 1 : 1, dan 2 : 1, hal tersebut tergantung dari berat bobot induk yang akan di pijahkan (Anonim, 2012).

  1. Penanganan Telur

Telur-telur yang terapung berarti adalah telur yang bagus dan sudah dibuahi, sedangkan yang tenggelam adalah telur-telur yang biasanya kurang bagus. Penyortiran dengan cara ini cukup efektif.

Telur di tempatkan pada kolam penetasan yang sebaiknya berada di dalam ruangan dan memiliki suhu yang ideal, yakni sekitar 29 derajat celcius. Hanya dalam 19 jam, telur-telur ikan akan menetas menjadi larva ikan Kerapu.

  1. Penanganan Larva

Larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar.

Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 – 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp dengan kepadatan antara 5.10 – 10 sel/ml.

Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga mencapai kepadatan 5 – 10 ekor/ml plytoplankton 10 – 2.10 sel/ml media. Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25 – 0,75 ekor/ml media.

Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 – 5 ekor/ml media.

Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari (Slamet, 1993).

  1. Pendederan

Dalam pendederan, sebaiknya larva ikan kerapu di Grading atau penyortiran. Grading harus secara periodik dilakukan guna menghindari kanibalisme yang tinggi. Semakin seragam ukuran ikan tingkat kanibalisme dapat ditekan. Pada tahap ini manajemen air media pemeliharaan juga sangat penting diperhatikan.

  1. Pemanenan

Larva di pelihara hingga menjadi benih yang siap panen. Benih dapat dipanen setelah umur 2 bulan atau berukuran 2-3″.

Demikian Pembahasan dari kami tentang  Cara Pembenihan Ikan Kerapu Secara lengkap dan jelas, semoga bermanfaat jangan lupa di share sobat safelinknya.xyz